Catatan Singkat dari Jendela Lantai 15 di Kuala Lumpur
Perjalanan ini bukan sekadar
perjalanan biasa. Ini adalah momen perdana saya menginjakkan kaki di luar
negeri. Ada rasa canggung sekaligus antusias saat memegang paspor yang sudah
"menganggur" selama setahun penuh sejak dibuat. Akhirnya, pada Minggu
siang, 12 Oktober 2025, pesawat saya lepas landas dari Bandara Sultan Iskandar
Muda, Banda Aceh, membawa saya menuju babak baru.
Malam Pertama di Negeri Jiran
Mendarat di Kuala Lumpur sekitar
pukul 20.00, pengalaman pertama yang saya rasakan adalah mengantri di
imigrasi, sebuah ritual wajib yang ternyata cukup memberikan kesan tersendiri
bagi pendatang baru seperti saya. Setelah urusan administrasi selesai dan perut
mulai keroncongan, makan malam pertama pun ditutup dengan transaksi menggunakan
Ringgit di area bandara.
Sekitar pukul 22.00, saya memesan Grab menuju penginapan. Ada hal kecil yang menarik perhatian: merek-merek mobil di sini terasa asing, berbeda dengan pemandangan jalanan di Indonesia. Perjalanan berakhir di de King Boutique Hotel KLCC. Dari kamar 1513, saya disambut oleh kemegahan kota yang tertata rapi, sebuah pemandangan mewah yang jarang saya temui sehari-hari.
Antara Diplomasi dan Kuliner
Tujuan utama kedatangan saya kali
ini adalah mendampingi Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan UIN
Ar-Raniry, Prof Mursyid, serta Kepala Pusat Layanan Internasional, Prof Saiful. Kami
berkunjung ke Kantor KBRI Kuala Lumpur untuk penandatanganan MoU antara UIN
Ar-Raniry dengan pihak KBRI.
Namun, perjalanan tak lengkap tanpa mencicipi sisi lokal kota ini; di pagi yang tenang, saya sempat berolahraga santai di komplek KLCC sebelum menikmati secangkir kopi di "Daily Dose" tepat di depan Petronas.
Sebelum kembali, saya juga sempat mampir ke kawasan Haniffa untuk sekadar mencari oleh-oleh setelah agenda formal selesai. Kawasan ini terletak jalan masjid India, dikenal sebagai destinasi utama bagi wisatawan, termasuk dari Indonesia, untuk berburu tekstil, barang kemas (perhiasan), perlengkapan ibadah, hingga cokelat dan rempah-rempah dengan harga yang kompetitif.
Sebuah Refleksi Sederhana
Melihat gedung-gedung pencakar langit yang mewah dan keteraturan kota ini membuat saya sadar bahwa setiap perjalanan selalu membawa perspektif baru. Terkadang kita perlu menjauh sejenak dari rutinitas untuk menemukan kembali semangat yang sempat hilang—termasuk semangat untuk mengisi blog ini lagi.
Semoga catatan kecil ini ada
manfaatnya. Terkadang, langkah pertama yang paling sulit bukanlah perjalanan
ribuan kilometer, melainkan keberanian untuk membuka kembali paspor perawan
yang sudah lama berdebu. Nah!

.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar