Membuka Jalan ke Timur: Catatan Perjalanan Muktamar
Transit singkat di Jakarta menjadi jeda sejenak sebelum kami kembali mengudara menuju Surabaya.
Pukul 20.00 WIB, langkah kaki akhirnya menapak di Bandara Juanda.
Hari pertama ditutup dengan kehangatan perjumpaan bersama rekan-rekan yang sudah tiba lebih dulu di News Hotel Sidoarjo—sebuah awal dari perjalanan panjang yang sarat makna.
Kamis pagi, 27 Agustus 2026, kami bergerak meninggalkan Sidoarjo menuju Jombang.
Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri singgah menikmati makan siang bersahaja di rumah makan Padang pinggir jalan. Santap siang ini bukan sekadar mengisi tenaga, tetapi juga menjadi ruang hangat untuk berbagi cerita sebelum menyatu dengan ribuan peziarah dan peserta perhelatan besar di tanah santri.
Setibanya di Jombang, atmosfer khidmat Muktamar NU ke-35 begitu terasa di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas. Berdiri di salah satu pesantren tertua di Jawa Timur ini mengingatkan kita pada sejarah panjang pendidikan Islam Nusantara.
Di kompleks ini, kami berziarah ke makam Pahlawan Nasional sekaligus pendiri NU, KH. Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab). Beliau adalah organisatoris dan pemikir ulung yang terkenal dengan gubahan syair Ya Lal Wathon. Berdoa di pusara beliau mengajarkan kami arti keteguhan dan ide-ide besar yang melampaui zamannya.
Jumat, 28 Agustus 2026, langkah kami berlanjut ke Pesantren Tebuireng untuk melantunkan doa di kompleks makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Satu hal yang menyentuh hati di pusara Sang Guru Bangsa adalah kesederhanaannya. Nisan beliau mengabadikan pesan perdamaian dalam empat bahasa (Arab, Indonesia, Inggris, dan Mandarin) yang bermakna "Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan". Berada di tempat ini menegaskan kembali pesan Gus Dur bahwa "Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan."
Perjalanan bergeser kembali ke Kota Surabaya. Kami berziarah ke Makam Sunan Ampel (Raden Rahmat), salah satu Wali Songo penganjur ajaran Moh Limo yang meletakkan dasar dakwah damai di tanah Jawa.
Perjalanan religi ini dilanjutkan dengan melintasi bentangan megah Jembatan Suramadu. Di atas Selat Madura, angin laut seolah berbisik tentang pentingnya membangun jembatan silaturahmi—menghubungkan masa lalu yang penuh sejarah dengan masa depan yang harus terus diperjuangkan.
Sebelum menyudahi petualangan di Surabaya, kami menyusuri dinamika Kota Pahlawan. Bergerak dari sudut bersejarah Tunjungan hingga ke pusat oleh-oleh khas Surabaya, kami mencari buah tangan untuk keluarga dan sahabat. Setiap bingkisan—makanan khas hingga suvenir kecil—bukan sekadar barang bawaan, melainkan wujud rasa syukur dan cara membagikan kebahagiaan perjalanan kepada orang-orang tersayang di rumah.
Setelah puas berburu oleh-oleh, malam hari kami mengarahkan langkah ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (yang sering dikenal masyarakat sebagai Masjid Agung Surabaya).
Seusai shalat, kami menikmati suasana santai di angkringan sekitar pelataran masjid. Santap malam sederhana dengan segelas teh hangat terasa begitu nikmat di tengah sejuknya udara malam Kota Pahlawan. Kehadiran sebuah delman kayu yang mangkal di kawasan masjid memberi sentuhan nostalgia yang unik—sebuah momen hangat yang tak lupa kami abadikan dalam beberapa lembar foto.
Minggu sore, 30 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB, Kereta Api perlahan meninggalkan Stasiun Surabaya Pasar Turi (SBI). Roda besi membelah pulau Jawa hingga kami tiba di Stasiun Pasar Senen (PSE), Jakarta, saat dini hari pukul 01.10 WIB.
Perjalanan berlanjut menggunakan Grab menuju Bandara Soekarno-Hatta. Pukul 07.30 WIB penerbangan membawa kami kembali ke barat, hingga akhirnya pukul 10.00 WIB kaki ini kembali memijak bumi Serambi Mekkah.






Komentar
Posting Komentar